Lebih dari 1000 napi di Lapas Kelas II A Kerobokan, Denpasar, Bali mengamuk. Mereka membakar ruang kepala lapas dan stafnya. Mereka juga mengusir sipir dan menguasai lapas.
Kepala Keamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) LP Kerobokan Anang mengatakan, kerusuhan napi terjadi karena mereka terprovokasi oleh napi lainnya.
"Sumber keributan awalnya di C1 dan C2, mereka berusaha mempengaruhi rekan-rekannya untuk membantu membuka paksa pintu blok sel," ujar Anang, Rabu (22/2).
Kata Anang, para napi langsung merusak apa saja yang ditemui, termasuk bangunan pos yang ada. Dari tujuh pos penjagaan, empat di antaranya yakni pos 1, 3, 5 dan 7 dirusak napi yang beringas.
Setelah para napi di Blok C1 dan 2, berhasil keluar menjebol pintu mereka langsung mengajak rekan lainnya melakukan perusakan seperti di Blok A,B,C, dan G. Konsentrasi massa dari dua blok itulah yang terus melakukan perusakan membakar dan melempari petugas denga batu.
Sejauh ini, belum diketahui jumlah korban akibat kerusuhan yang pecah sekira Selasa 21 Feberuari pukul 23.00 Wita. Anang menambahkan, saat ini jumlah warga binaan sekira 1.100 orang, 124 orang diantaranya wanita.
Hingga pagi ini (Rabu, 22/02) suasana di LP Kerobokan masih mencekam. Aparat keamanan terus disiagakan di seputar Lapas dengan senjata lengkap. Napi dari seluruh blok masih mengamuk. Hujan batu dari dalam Lapas masih terus terjadi. Para napi melempari petugas dengan batu, patahan tembok, batako dan berbagai benda lainnya. Lemparan tersebut berasal dari semua blok karena saat ini seluruh penghuni blok telah berhasil menjebol tembok masing-masing dan berhamburan keluar untuk mengejar petugas.
Masih kedengaran kata-kata kasar berupa cacian dan hujatan kepada petugas. Aparat saat ini belum berhasil negosiasi dan menenangkan para napi yang sudah mengamuk sejak semalam.
Polisi dibantu ratusan personel TNI masih mensterilkan LP Kerobokan. Semua kendaraan dilarang melintas di depan Lapas di Jalan Tangkuban Perahu, Badung. Polisi memilih menunggu situasi kondusif untuk masuk ke areal Lapas, guna menghindari jatuhnya korban.
Napi Asing Aman
Kerusuhan melibatkan sekitar 1200 napi, namun napi asing, perempuan dan anak, tidak terlibat dalam kerusuhan itu.
"Napi asing aman. Mereka ada di blok B, ada 60 orang. Napi perempuan tidak ikut-ikutan juga. Napi anak, ada, tapi tidak ikut-ikutan. Mereka tetap di selnya," ujar Wakil Kepala Kepolisian Daerah Bali, Brigjen Ketut Untung Yoga Ana, kepada mediaindonesia.com, melalui telepon, di Jakarta, Rabu (22/2).
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aparat keamanan segera mengevakuasi sejumlah korban luka-luka akibat kerusuhan tersebut. Aparat kepolisian dalam satu gerakan membawa keluar sedikitnya empat orang yang
mengalami luka-luka untuk dilarikan ke Rumah Sakit Polri Jalan Trijata, Denpasar.
"Langsung ke Trijata," teriak polisi yang mengomando petugas yang menggiring napi korban luka-luka dan semuanya dalam kondisi tangan diborgol saat memasuki mobil ambulans.
Belum diketahui jumlah pasti korban kerusuhan yang menimbulkan kerusakan sejumlah bangunan lapas yang terlihat hangus terbakar itu.
Sementara Kepala Polda Bali Irjen Totoy Herawan Indra, Rabu (22/2) pagi itu juga mendatangi Lembaga Pemasyarakatan Denpasar dan bertemu dengan sejumlah napi untuk mendapatkan keterangan terkait kerusuhan yang dipicu oleh persoalan diskriminasi itu.
Di halaman hingga jalan di sekitar Lapas Kerobokan itu masih terlihat batu berserakan, selain pecahan botol dan benda lainnya, yang merupakan bekas lemparan para napi dari dalam benteng penjara.
Sementara bangunan bagian depan Lapas yang menjadi ruang kantor, terlihat ludes terbakar, tak ada yang tersisa, kecuali dindingnya.
Kobaran api berhasil dipadamkan, namun sempat menyala lagi dan petugas sulit melakukan pemadaman, karena para napi kembali melakukan aksi "hujan batu" serta lemparan benda lainnya dari dalam Lapas.


